PENDIDIKAN ANAK DALAM
PERSPEKTIF ISLAM
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi
Tugas
Mata Kuliah : Hadits
Dosen
Pengampu: H. Fathur Rozi, M.Ag
Disusun:
1. Qonita
Alfi Navila (133611032)
2. Ahmad
Minanur Rohim (133611033)
3. M.
Rizal Jalil Puja Kesuma (133611034)
4. Yessi
Gustari Maharani (133611035)
5. Nailatul
Muna (133611036)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH
DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014
I.
PENDAHULUAN
Anak merupakan salah satu tujuan dari suatu
pernikahan. Anak adalah amanat dari Allah SWT., oleh karena
itu kita harus menjaga dan mendidik anak sesuai ajaran Rasulullah SAW. Kita
tidak boleh salah mendidik anak, karena anak adalah harapan dan cita-cita orang
tua. Kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orang tua.
Kegiatan pendidikan yang dilaksanakan dalam keluarga,
tidak bisa dilepaskan dari pendidikan sebelumnya yakni dalam kandungan atau
sebelum lahir (prenatal), sekitar saat kelahiran (perinatal), saat baru
kelahiran (neonatal), setelah kelahiran (postnatal), termasuk pendidikan anak
usia dini. Dengan demikian bila dikaitkan dengan pendidikan anak usia dini
merupakan serangkaian yang masih ada keterkaitannya pendidikan sebelumnya.
Sehingga dapat terwujudnya generasi yang unggul, dan pendidikan itu memang
merupakan sebuah kebutuhan dalam kehidupan manusia.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Adakah yang perlu dilakukan sebelum dan setelah anak
dilahirkan di dunia dalam ajaran Agama Islam?
B.
Apa
tujuan dari pendidikan anak dalam Islam?
C.
Bagaimana
peran dan fungsi keluarga terhadap pendidikan anak?
III.
PEMBAHASAN
A. Dalam ajaran Islam yang dilakukan sebelum dan setelah
anak dilahirkan di dunia.
Hampir dapat dipastikan bahkan semua orang yang memiliki
anak, baik laki-laki maupun perempuan berkeinginan agar anaknya tersebut kelak
menjadi anak yang shaleh dan berbakti kepada kedua orang tuanya serta mereka
hidup bahagia, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Untuk dapt terpenuhi cita-citanya
itu, orang tua tidak segan-segan mengeluarkan dana besar untuk biaya pendidikan
anak-anaknya.
Disamping itu, orang tua melakukan berbagai usaha , baik
secara lahiriyah maupun batiniyah guna tercapainya cita-cita tersebut. Hal itu dilakukan karena orang tua menyadari,
mengasuh, dan membumbing anak merupakan kewajiban dan tanggung jawabnya. Ia
juga menyadari anak adalah bagian dari kulit dagingnya sendiri serta sambungan
sejarah hidupnya. Baik atau buruknya kehidupan anak selalu dikaitkan dengan kehidupan
orang tuanya.
Maka diharapkan cita-cita mereka dapat tercapai. Namun
disisilain didapati kenyataan bahwa banyak orang yang bekerja keras siang dan
malam, berusaha lahir dan batin, mengeluarkan dana tidak sedikit sampai
menghabiskan pekarangan, sawah dan ladang namun usah mereka tidak membawa hasil
atau gagal. Kegagalan ini di akibatkan oleh adanya ketidak tahuan tentang
bagaimana cara mendidik anak yang tepat, materi dan metode mana yang harus
dipilih dalam membimbing anan-anak mereka, berapa lama bimbingan itu diberikan
kepada mereka dan lain sebagainya.
1.
Pendidikan
Anak Pre Natal.
Secara etimologis
sebagaimana di ungkapkan Anton M. Moeliono dkk, pendidikan adalah proses
perubahan sikap dan tata laku seseorang tau kelompok orang dalam usaha mendewasakan
manusia melalui pwngajaran dan latihan.
Sedangkan secara
terminologis, Soegarda Poerbakawatja mendifinisikan pendidikan sebagai:
“perubahan atau usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya,
pengalamannya, kecakapannya, serta ketrampilannya kepada generasi muda sebagai
usaha menyiapkan agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmani atau
rohaninya”.
Adapun anak
prenatal anak yang masih dalam kandungan seorang Ibu. Dengan demikian yang
dimaksud pendidikan anak prenatal adalah pendidikan yang diberikan kepada anak
yang dalam kandungan, yang berupa do’a, perbuatan, motivasi, dll. guna
mempengaruhinya dan agar ia mengikutinya sebagaimana yang diinginkan oleh
pendidik.
Para ahli prenatal
menyatakan bahwa anak yang masih dalam kandungan terutama berumur 5 bulan atau
20 minggu itu sudah memiliki kemampuan merasakan stimulus yang ada diluar.[1]
Jadi, tugas
pendidik utama adalah kedua orang tua (bapak ibu),sedang anggota yang lain
membantu agar pelaksanakan pendidikan ini berlangsung dengan baik.seluruh
anggota keluarga supaya menciptakan suasana yang sejuk,damai,tentram dan penuh
kasih sayang.semuanya dikonsentrasikan untuk menciptakan suasana kondusif agar
bayi dalam kandungan menerima respons positif dan maksimal.
Sehubungan dengan
hal itu,maka islam melarang berbuat keributan selama ibu mengandung.sebab hal
itu akan berpengaruh negatif terhadap anak dalam kandungan. Rasulullah SAW
bersabda:
الشقى من شقى فى بطن أمه (رواه مسلم)
“Orang yang
celaka adalah yang telah (menderita) celaka dalam perut ibunya” HR.Muslim[2]
Hukum Mendidik
Anak Pre Natal
Untuk mendapatkan
ketentuan hukum mendidik anak prenatal atau anak di dalam kandungan ini adalah
dengan mengutip ayat al Quran dan hadits Nabi Muhammad SAW dan atsar sahabat.
Di antara ayat-ayat alQuran ataupun hadits nabi tersebutadalah sebagai berikut:
$pkr'¯»t
tûïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä
(#þqè%
ö/ä3|¡àÿRr&
ö/ä3Î=÷dr&ur
#Y$tR
ÇÏÈ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api.” (QS. At-Tahriim: 6)
ثقى بالمرء إنما أن يضيع من يقوث (رواه ابوداوود)
Rasulullah juga bersabda:
“Rasulullah saw bersabda: cukuplah besarnya doa seorang
jika ia menyia-nyiakan (pendidikan) orang yang menjadi tanggung jawabanya
(keluarganya).” (HR.Abu Dawud)
Dari
ayat al Quran dan hadits nabi Muhammad saw diats dapat disimpulkan bahwa hukum
mendidik anak termasuk usia pre natal adalah wajib bagi kedua orang
tuanya.kesimpulan hukum wajib ini ditunjukkan oleh kata perintah dalam al Quran
surat at Tahrim ayat 6 dan dhohir hadits riwayat Imam Bukhori dan Muslim,Imam
Abu Dawud diatas. Mendidik anak,disamping kewajiban orang tua juga kelak
setelah tua dan lemah ia akan memperoleh buahnya berupa pertolongan dan
kebaikan dari anaknya.[3]
Berdasarkan
kajian perkembangan manusia,kualitas seseorang dipengaruhi oleh faktor bawaan
dan lingkungan.faktor bawaan harus diterima apa adanya. Artinya,anak lahir
sudah membawa bekal sebagai potensi yang siap dikembangakan.lingkungan menjadi
salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan anak.menurut Samples,pada saat
lahir otak bayi belum sempurna,tetapi sudah mengandung jaringan saraf sekitar
100 milyar sel saraf aktif yang siap melakukan sambungan antar
sel.perkembangannya menjadi sempurna melalui pengalaman dari hari ke
hari.sambungan itu harus diperkuat melalui berbagai rangsangan yang membentuk
pengalaman belajar.bila tidak memperoleh rangsangan yang tidak tepat maka ptak
tidak akan berkembangan maksimal atau bahkan otak tidak akan berfungsi
maksimal.berarti peran lingkungan termasuk TK,RA atau yang lainnya dalam
memberi pengalaman sangat diperlukan anak.[4]
2.
Pendidikan
Anak Dalam Islam.
Istilah pendidikan berasal dari kata “didik” dengan
memberi awalan “pe“ dan akhiran “kan“, mengandung arti “perbuatan“ (hal, cara
dan sebagainya). Istilah pendidikan semula berasal dari bahasa Yunani yaitu
“Paedagogie“, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini
kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa
Inggris dengan “education“ yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam
bahasa arab istilah ini sering diterjemahkan
dengan“Tarbiyah“ yang berarti pendidikan.
Sedangkan pengertian anak dalam kamus besar bahasa
Indonesia yaitu : “(1) keturunan, (2) manusia yang masih kecil.
Maka pendidikan
tidaklah semata-mata kita menyekolahkan anak ke sekolah untuk menimba ilmu
pengetahuan, namun lebih luas dari itu. Seorang anak akan tumbuh kembang dan
baik manakala ia memperoleh pendidikan yang parpurna (komprehensif),a agar
kelak ia menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, bangsa, negara dan agama. Anak yang demikian ini adalah anak
yang sehat dalam arti luas, yaitu sehat fisik, mental-intelektual, mental
sosial dan mental spiritual. Pendidikan itu sendiri sudah harus dilakukan
sedini mungkin di rumah maupun di luar rumah, formal di institut pendidikan dan
non formal di masyarakat.
Sedangkan
pengertian Islam itu sendiri yaitu “Agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad
SAW, berpedoman pada kitab suci Al-Qur’an yang diturunkan ke dunia melalui
wahyu Allah SWT. Agama islam merupakan sistem tata kehidupan yang pasti
bisa menjadikan manusia damai, bahagia dan sejahtera.
Sedangkan menurut
Zakiah Daradjat pendidikan anak dalam Islam adalah lembaga pendidikan yang
melaksanakan pembinaan pendidikan secara Islami dan pengajaran dengan sengaja,
teratur dan terencana, guru-guru yang melaksanakan tugas pembinaan, pendidikan
dan pengajaran tersebut adalah orang-orang yang telah dibekali dengan
pengetahuan tentang anak didik dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas
kependidikan.
Karena
sesungguhnya pendidikan adalah masalah penting yang aktual sepanjang zaman.
Karena pendidikan orang menjadi maju. Dengan bekal ilmu pengetahuan dan
teknologi orang mampu mengolah alam yang dikaruniakan Allah SWT kepada manusia.
Islam mewajibkan setiap orang baik laki-laki maupun perempuan untuk menuntut
ilmu dan dianjurkan untuk belajar sejak
dari buaian sampai keliang lahat.
Pendidikan agama
Islam sangat penting bagi kehidupan manusia, terutama dalam mencapai
ketentraman batin dan kesehatan mental pada umumnya. Tidak diragukan lagi,
bahwa agama Islam merupakan bimbingan hidup yang paling baik, pencegah
perbuatan salah dan mungkar yang paling ampuh, pengendali moral yang tiada
taranya.
Sebab agama bukan
ibadah saja, agama mengatur seluruh segi kehidupan, semua penampilan ibu dan
bapak dalam kehidupan sehari-hari disaksikan dan dialami oleh anak bernafaskan
agama, disamping latihan dan pembiasan tentang agama, perlu dilaksanakan sejak
si anak masih kecil, sesuai pertumbuhan dan perkembangan jiwanya. Anak mengenal
Tuhan melalui ucapan ibunya waktu ia masih kecil. Apapun yang dikatakan ibunya
tentang Tuhan akan diterimanya dan dibawanya sampai dewasa.
Pendidikan anak perlu diperhatikan jika kita bersalah
dalam mendidik anak, maka bahayanya tidak menimpa anak itu saja, akan tetapi
mengenai banyak orang, masyarakat, bahkan mungkin berpengaruh terhadap generasi
berikutnya. Karena itu pendidikan Islam memberikan bimbingan dan petunjuk
kepada semua penanggung jawab dan penyelenggara pendidikan, baik didalam
keluarga, sekolah dan di masyarakat. Jadi pendidikan anak dalam Islam yaitu
usaha berupa pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar kelak jika
selesai pendidikanya dapat memahami, mengerti adn mengamalkan agama Islam serta
menjadikannya sebagai jalan kehidupan baik pribadi mampu kehidupan masyarakat.
B.
Tujuan
dari Anak Dalam Islam
Tujuan umum pendidikan Islam mempunyai karakteristik yang berhubungan dengan persiapannya
dalam kehidupan didunia dan kehidupan diakherat kelak yang abadi. Jamil Shaliba
dengan jelas mengatakan: “Sebagian ayat-ayat Al-Qur’an yang didasarkan pada
Al-Qur’an dan Hadits memberi indikasi, bahwa tujuan pendidikan adalah
mengejawantahkan realisasi kebahagiaan hidup didunia ini dan dunia yang akan
datang”.[5]
Salah
satu karakteristik dari tujuan umum adalah yang sering kali diterjemahkan
dengan tingkah laku lahir. Orang beriman kepada Allah akan berikhtiyar keras
merefleksikan keimanannya ddidalam tingkah laku lahir. Tidak mengherankan apabila orang – orang
beriman disamping beriman kepada yang ghaib mereka berusaha sekuat tenaga
bertujuan kepada Allah, mereka ikut serta dalam pengajaran-pengajaran yang
diikuti dengan kesabaran dan kebenaran(tingkah laku yang tidak menyimpang).[6]
Menurut Rifa'atul
Mahmudah ada 3 hal tujuan pendidikan anak dalam Islam yaitu:
1.
Anak sebagai penerus perjuangan tiap
manusia mengembann "misi", manusia harus jadi "khalifah" di
muka bumi ini. Tugasnya mengarahkan manusia untuk "ibadah kepada
Allah" dan mengelola alam sekitarnya sehingga memberi iklim yang kondusif
(mendukung) untuk "ibadah". Perjuangan itu harus dilakukan terus
menerus, dilakukan kesinambungan, dari satu generasi ke generasi lainnya. Orang
tua sejak dini harus mempersiapkan anak untuk jadi generasi lainnya. Orang tua
sejak dini harus mempersiapkan anak untuk jadi penerus
"kekhalifahan", karena pada saatnya kelak ia harus tampil di
permukaan mengganti generasi tua.
2. Anak
adalah amanah dan fitrah. Tiap manusia adalah pemimpin, dan ia akan dimintai
pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya. Tiap orang tua akan diminta
tanggung jawab tentang anak-anaknya, karena itu Allah berfirman:
!$yJ¯RÎ) öNä3ä9ºuqøBr& ö/ä.ß0»s9÷rr&ur ×puZ÷GÏù 4 ª!$#ur ÿ¼çny0YÏã íô_r& ÒO`Ïàtã ÇÊÎÈ
Artinya: “Sesungguhnya
hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala
yang besar”. (QS. At-Thaghobun: 15)
Orang tua bisa
terangkat harkat dan martabatnya di dunia, juga menikmati kebahagiaan akhirat,
jika ternyata anak-anaknya baik. "ada tidak amalan yang tidak putus-putus
pahalanya walaupun seseorang telah meninggal, "begitu sabda Nabi, satu
diantaranya, anak-anak shaleh yang mendo'akan orang tuanya.
Tapi
bisa juga sebaliknya, orang tua hancur namanya, bangkrut usahanya, karena ulah
perbuatan anaknya. Dan di akhirat kecuali ia harus menanggung dosa sendiri,
kesalahannya mendidik anak juga harus ditanggungnya.
3. Anak
jadi pengikat tali kasih sayang. Cinta yang menggebu yang membuat lelaki-wanita
sepakat memasuki pernikahan kadang tidak lestari, bahkan bisa hilang sama
sekali dilanda kebosanan. Jika sudah demikian, segala hal sudah terjadi,
masing-masing mencoba berpaling mencari kemungkinan lain kasus penyelewengan
suami atau istri sering bermula dari lunturnya cinta dan munculnya kebosanan.
Berdasarkan uraian
di atas dapatlah disimpulkan bahwa pendidikan Islam mempunyai tujuan yang luas
dan dalam, seluas dan sedalam kebutuhan hidup manusia sebagai makhluk individu
dan sebagai makhluk sosial yang menghamba kepada khaliknya yang dijiwai oleh
nilai-nilai ajaran agama. Oleh karena itu, pendidikan Islam bertujuan untuk
menumbuhkan pola kepribadian manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan,
kecerdasan otak, penalaran, perasaan dan indera pendidikan ini harus melayani
petumbuhan manusia dalam semua aspek, baik aspek spiritual, intelektual,
imajinasi, jasmaniah, maupun aspek ilmiah, (secara perorangan, maupun secara
berkelompok), dan pendidikan ini mendorong aspek tersebut ke arah keutamaan
serta pencapaian kesempurnaan hidup.[7]
C. Peranan dan fungsi keluarga terhadap pendidikan anak
Keluarga mempunyai peranan
penting dalam pendidikan, baik dalam lingkungan masyarakat Islam
maupun non-Islam. Karerena keluarga merupakan tempat pertumbuhan
anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari
anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam
pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia
pra-sekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan
sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya.
Dari sini, keluarga
mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Karena keluarga merupakan
batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak
dan mempersiapkan personil-personilnya.
Musuh-musuh Islam
telah menyadari pentingya peranan keluarga ini. Maka mereka pun tak segan-segan
dalam upaya menghancurkan dan merobohkannya. Mereka mengerahkan segala usaha
ntuk mencapai tujuan itu. Sarana yang mereka pergunakan antara lain:
1.
Merusak
wanita muslimah dan mempropagandakan kepadanya agar meninggallkan tugasnya yang
utama dalam menjaga keluarga dan mempersiapkan generasi.
2.
Merusak
generasi muda dengan upaya mendidik mereka di tempat-tempat pengasuhan yang
jauh dari keluarga, agar mudah dirusak nantinya.
3.
Merusak
masyarakat dengan menyebarkan kerusakan dan kehancuran, sehingga keluarga,
individu dan masyarakat seluruhnya dapat dihancurkan.
Sebelum ini, para
ulama umat Islam telah menyadari pentingya pendidikan melalui keluarga. Syaikh
Abu Hamid Al Ghazali ketika membahas tentang peran kedua orangtua dalam
pendidikan mengatakan: "Ketahuilah, bahwa anak kecil merupakan amanat bagi
kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih
dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada
apa saja yang disodorkan kepadanya Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia
akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dari
akherat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan
dibiarkan sebagai mana binatang temak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa.
Dosanya pun ditanggung oleh penguru dan walinya. Maka hendaklah ia memelihara
mendidik dan membina serta mengajarinya akhlak yang baik, menjaganya dari
teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula
menjadikannya suka kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari
hal tersebut bila dewasa." [8]
Fungsi peran keluarga dalam
pembetukan diri anak di rumah:
1. Sebagai pengalaman pertama
masa kanak-kanak.
2. Menjamin kehidupan emosional
anak.
3. Memberikan dasar pendidikan
sosial.
4. Meletakkan dasar pendidikan
agama.
5. Bertanggung jawab dalam
memotivasi dan mendorong keberhasilan anak.
6. Memberikan kesempatan belajar
dengan mengenalkan berbagai ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang berguna bagi
kehidupan kelak sehingga ia mampu menjadi manusia dewasa yang mandiri.
7. Menjaga kesehatan anak
sehingga ia dapat dengan nyaman dan antusias melaksanakan proses belajar yang
lengkap.
8. Memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat dengan
diajarkan pengertian mengenai takwa kepada Tuhan YME yang merupakan tujuan
akhir manusia
Untuk
dapat menjalankan fungsinya dan menunjukkan peran keluarga terhadap anak,
secara maksimal, orang tua tentulah harus mempunyai kualitas diri yang juga
memadai. Hal ini sangat penting agar anak-anak bisa tumbuh dan berkembang
sesuai dengan harapan.
Pada
dasarnya, orang tua haruslah memahami peran dan hakikatnya sebagai orang tua
dalam membesarkan anak-anaknya. Termasuk di dalamnya yaitu membekali diri
dengan ilmu. Ilmu tersebut mencakup beberapa macam, yaitu ilmu tentang pola
pengasuhan yang sesuai, tentang pendidikan bagi anak, dan ilmu perihal tumbuh
kembang anak.
Bentuk
pendampingan orang tua dalam proses pendidikan anak diwujudkan dalam cara-cara
orang tua mendidik anak mereka. Hal inilah yang disebut sebagai pola asuh.
Tentunya, setiap orang tua akan berusaha untuk menggunakan cara-cara terbaik
dan menurut mereka pantas untuk mendidik anak.
Dalam
hal ini jelas bahwa salah satu kewajiban orang tua adalah menemukan pola
pendidikan yang terbaik. Orang tua tentulah harus mempersiapkan diri dengan
beragam pengetahuan untuk menemukan pola asuh yang tepat dalam mendidik anak.
Peran Orang tua terhadap anak sangat besar karena
waktu banyak dihabiskan bersama orang tua di rumah maka dari itu orang tua
perlu berperan aktif untuk perkembangan anak dari masa kemasa hingga anak sudah dewasa ddan menjadi pribadi yang bijaksana. Orang tua pun juga perlu bijak dalam
memilih pola didik, jangan terlalu dimanjakam tapi juga jangan terlalu otoriter.[9]
IV.
KESIMPULAN
Tugas pendidik utama adalah kedua
orang tua (bapak ibu),sedang anggota yang lain membantu agar pelaksanakan
pendidikan ini berlangsung dengan baik.seluruh anggota keluarga supaya
menciptakan suasana yang sejuk,damai,tentram dan penuh kasih sayang.semuanya
dikonsentrasikan untuk menciptakan suasana kondusif agar bayi dalam kandungan
menerima respons positif dan maksimal.
Tujuan umum pendidikan Islam mempunyai
karakteristik yang
berhubungan dengan persiapannya dalam kehidupan didunia dan kehidupan diakherat
kelak yang abadi. Jamil Shaliba dengan jelas mengatakan: “Sebagian ayat-ayat
Al-Qur’an yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadits memberi indikasi, bahwa
tujuan pendidikan adalah mengejawantahkan realisasi kebahagiaan hidup didunia
ini dan dunia yang akan datang”.
Keluarga mempunyai peranan
penting dalam pendidikan, baik dalam lingkungan masyarakat Islam
maupun non-Islam. Karerena keluarga merupakan tempat pertumbuhan
anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari
anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam
pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia
pra-sekolah).
DAFTAR PUSTAKA
Saleh Abdullah, Abdurrahman, Teori –Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an,
(Jakarta: PT RINEKA CIPTA).
Uhbiyati Nur, Long Life Education:
Pendidikan Anak Sejak dalam Kandungan Sampai
Lansia, (Semarang:
Walisongo Press, 2009).
Yus, Anita, Penilaian Perkembangan
Belajar Anak Taman Kanak-Kanak,
(Jakarta:Kencana,2011).
www.alsofwah.or.id (disopy
pada jam 11:05 tanggal 26 Maret 2014).
www.erfan.if/53338.html
(dicopy pada jam 15:35 tanggal 25 Maret 2014).
(dicopy
pada jam 11:10 tanggal 25 Maret 2014).
[1]
Dra Hj. Nur Uhbiyati, M.Pd., Long
Life Education: Pendidikan Anak Sejak dalam Kandungan Sampai Lansia, (Semarang:
Walisongo Press, 2009), halm. 6-7
[2]
Dra Hj. Nur Uhbiyati, M.Pd., Long
Life Education: Pendidikan Anak Sejak dalam Kandungan Sampai Lansia,
(Semarang: Walisongo Press, 2009), halm. 12
[3]
Dra Hj. Nur Uhbiyati, M.Pd., Long
Life Education: Pendidikan Anak Sejak dalam Kandungan Sampai Lansia,
(Semarang: Walisongo Press, 2009), halm. 9
[4]
Dr. Anita Yus, Penilaian
Perkembangan Belajar Anak Taman Kanak-Kanak,(Jakarta:Kencana,2011) hal18-19
[5]
Dr. Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori –Teori Pendidikan Berdasarkan
Al-Qur’an, (Jakarta: PT RINEKA CIPTA), Halm. 156
[6]
Dr. Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori –Teori Pendidikan Berdasarkan
Al-Qur’an, (Jakarta: PT RINEKA CIPTA), Halm. 157
[7]
www.erfan.if/53338.html (dicopy pada
jam 15:35 tanggal 25 Maret 2014).
[9]
www.perempuan.com/read/peran-keluarga-terhadap-anak
(dicopy pada jam 11:10 tanggal 25 Maret 2014).


Thank you for the auspicious writeup. It in truth used to be a entertainment account it.
ReplyDeleteGlance advanced to far brought agreeable from you! However, how can we
keep in touch?
my page: play minecraft free