MINTA DO'ANYA BIAR LANGGENG ~Mi*El~


Home » » Psikologi Sufistik

Psikologi Sufistik

I.            PENDAHULUAN
Psikologi sufistik sebagai ilmu, secara sosio-filosofis, sulit untuk di pisahkan dari kecenderungan faham (ajaran) yang melingkarinya, karena manusia sebagai pengembang ilmu  pengetahuan selalu berhubungan dengan konteks sosial dengan dan tertentu.
Keniscayaan para ilmuan dalam melakukan relasidengan pihak lain, disebabkan karena konsekuaensi keberadaan dirinya sebagai mahluk sosial. Sedangkan kecenderunganya terhadap paham tertentu, di sebabkan oleh tuntunan kebutuhan psikologisnya terhadap falsafah hidup.
Oleh karena itu, Tasawuf sebagai faham (ajaran) dalam islam yang banyak mewarnai keilmuan psikologi sufistik, menjadi sangat relavan untuk menjadi kajian, baik dari sisi hakiakat maupun semangat ajaranya[1].  




    II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Hakikat psikologi sufistik
B.     Objek kajian psikologi sufistik











 III.            PEMBAHASAN
A.    Hakikat psikologi sufistik
Psikologi sufistik sebagai ilmu tentang tingkah laku manusia, konsep-konsepnya di bangun atas dasar paradigm tasawuf yang berbasis Al Qur’an dan Al Hadits. Psikologi tersebut mempunyai corak khusus dalam kepedulianya pada hakikat manusia dalam sisi rohaniyah, karena dimensi ini dalam perspektif sufistik dipandang sebaga penentu utama bagi baik/buruknya perilaku psikologis manusia menuju jalan untuk mendekatkan diri kepada allah.
Hal ini, menggambarkan semangat psikologi sufistik yang selalu mengedepankan  pengembangan ke potensi batin kearah kesadaran psikologis untuk senantiasa berhubungan dengan allah, dan untuk tujuan-tujuan yang lebih mulia di sisi allah[2].
Menyadari pentingnya dimensi rohani dalam tasawuf tersebut, maka studi tentang pembersihan jiwa dan pengalamanya secara benar, yang merupakan bidang spirualiatas  psikologi sufistik mulai mendapat perhatian, karna disadari bahwa kecenderungan keaerah berbagai penyimpangan moral seperti manipulasi, korupsi, kolusi,penyalahgunaan kekuasaan, penindasan, praktek pengguguran kandungan (abortion), pemerkosaan,pembunuhan, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, kejahatan lainya, adalah bermula disebabkan kegersangan psikologis, dan kotoranya jiwa yang jauh dari bimbingan tuhan.
      Pemikiran tentang gambaran wilayah kajian psikologi sufistik tersebut, didasarkan atas suatu pandangan yang menyatakan bahwa makrosmos (seluruh tatanan ciptaan tuhan) dan juga mikrokosmos (tatanan ciptaan tuhan pada diri manusia) terdiri atas tiga keadaan fundamental, yaitu keadaan materil, keadaan psikis dan keadaan spiritual-transendental.

B.     Objek kajian psikologi sufistik
Psikologi, sebagai unsur dalam ilmu pengetahuan,memiliki tiga landasan yaitu ontologik, empistemologik, dan oksilogok. Landasan ontologi dari psikologi sebagai ilmu pengetahuan berhubungan dengan materi yang menjadi objek penelaahnya. Berdasarkan objek yang telah ditelaahnya, psikologi dapat disebut sebagai pengetahuan empirik, karena objeknya adalah suatu yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia yang mencakup kejadian-kejadian yang bersifat empirik,namun pengertian empiric dalam ontology fenomenologik, tidak harus terbatas pada yang empiric sensual, melainkan mencakup fenomeno presepsi, pemikiran, kemauan, dan pengalaman tentang sesuatu yang bersifat transenden[3].
Unsur lain dalam psikologi adalah tingkah laku atau perilaku. Perilaku dalam pengertian yang luas, selain perilaku yang Nampak, (aver behavior), juga erilaku yang tidak Nampak (inner behavior). Disebut over behavior, manakala berbentuk tingkah laku yang Nampak dalam tataran gerak jasmaniah seperti menulis,berbicara mengajar dan sejenisnya. Sementara yang termasukdalam katagori inner behavior adalah tingkah laku tingkah laku yang efektif yang menyangkut keanekaragaman perasaan, seperti takut, sedih, marah, gembira, kecewa, senang, benci, was was, dan termasuk didalamnya juga perasaan akan kebutuhan untuk meraih prestasi, yang dalam istilah psikologi disebut need for adchivement.
Sedang unsur berikutnya dalam psikologi adalah manusia dengan hubunganya dengan hal-hal yang disadari, sementara hal-hal yang menyangkut hewan dan hal-hal yang tidak disadari, tidak termasuk kajian psikologi, karena psikologi menurut Wundt sebagaimana yang di lansir oleh Bimo Walgito adalah The scisnce of hman consciousness.
Dengan demikian pendapat tersebut membatasi pengertian psikologi terbatas pada manusia dan membatasi pula pada hal-hal yang disadari saja. Hal tersebut sejalan dengan pandangan pskiologi sufistik  dan humanistik  yang hanya memfokuskan pada madusia sebagai objek kajian psikologinya
Fokus kajian dan penelitian yang dilakukan hanya pada manusia, karena adanya pertimbangan bahwa manusia itu mahluk yang unik berbeda jauh dengan hewan. Manusia, secara psikologis, di pandang sebagai suatu kesatuan antara dimensi fisik-biologis,dimensi kejiawaan, dimensi sosio kultural dimensi kerohanian dan dimensi spiritual disamping dipandang sebagai suatu kesatuan dalam suatu kebersamaan yang saling berkaitan antara dimensi akal dan dimensi jisim[4].                                                         

 IV.            KESIMPULAN
Dari pembahasan mengenai keterkaitan psikologi sufistik dengan aspek rohaniah,  sebagaimana di jelaskan diatas, dan dapat disimpulkan juga bahwa lingkup keilmuan psikologi sufistik, secara ontologis, tidak hanya didasarkan pada wilayah yang teramati (observable area), sebagaimana wilaya penelaahan sains modern yang terbatas pada realitas yang bersifat empiris profane dan tidak bermakna secara spiritual, tetapi juga didasarkan pada wilayah yang terpikirkan (conceifable area).





PENUTUP
Semoga dalam pertemuan kali ini bisa mengetahuai tentang hakekat tersendiri dari psikologi sufistik, dan berkepribadian yang ter arah dan benar menurut agama islam.





DAFTAR PUSTAKA

Hadziq Abdullah, rekonsiliasi psikosufistik dan humanistic, rasail (ranah ilmu-ilmu social agama dan interdisipliner) semarang, 2005.
























Psikologi Sufistik
Makalah
Disusun guna memenuhi  tugas
Mata kuliah     : Psikologi Sufistik
Dosen Pengampu        : Prof. Dr. H. Abdullah Hadziq, M. A.






Oleh :
Ahmad roisul falah                 (114411005)
FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2013


[1] Abdullah Hadziq, rekonsiliasi psikosufistik dan humanistic, hal: 18
[2]Ibid,  Abdullah Hadziq, rekonsiliasi psikosufistik dan humanistic, hal: 24

[3] Ibid, Abdullah Hadziq, rekonsiliasi psikosufistik dan humanistic, hal: 12

[4] Ibid, Abdullah Hadziq, rekonsiliasi psikosufistik dan humanistic, hal: 15

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di BLOG*ISLAM

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

0 komentar:

Post a Comment

 
Support : KANG WEB
Copyright © 2013. BLOG*ISLAM - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger