MINTA DO'ANYA BIAR LANGGENG ~Mi*El~


Home » » Masa Depan Kajian Islam di Era Globalisasi

Masa Depan Kajian Islam di Era Globalisasi

A.                 Pendahuluan
Pada awal kemunculannya, istilah studi Islam dikenal dengan Islamic studies (Dirâsah Islâmiyyah). Sejak akhir abad ke-19 hingga kini, salah satu persoalan besar yang diangkat para pemikir muslim adalah sikap yang mesti diambil terhadap ilmu pengetahuan modern di dunia Barat. Perdebatan mereka dilatar belakangi kesadaran bahwa dunia Islam pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan. Ilmu agama dalam dunia Islam telah berlangsung sejak lama, pada masa-masa awal terutama pada masa Nabi dan sahabat, studi Islam sudah banyak dilakukan di masjid seperti yang dilakukan di Hijaz yang berpusat di kota Makkah dan Madinah. Sedangkan di Irak yang berpusat di Basrah, Kufah, serta Damaskus, masing-masing daerah tersebut telah diwakili oleh Sahabat ternama. Tetapi pada zaman modern, ilmu pengetahuan yang dimiliki Islam telah jauh tertinggal oleh dunia Barat.
Perbincangan tentang Islam dan ilmu pengetahuan sejak akhir abad ke-19 itu memiliki dua aspek penting. Pertama, periode tersebut ditandai banyak perkembangan baru dalam pemikiran Islam. Penyebab utamanya adalah kontak yang semakin intensif – pada beberapa kasus bahkan berupa benturan fisik – antara dunia Islam dan peradaban Barat. Demikian luasnya penyebaran gagasan baru, sehingga tak berlebihan jika dikatakan bahwa pemikiran baru Islam lahir dari keinginan untuk menanggapinya.
Kedua, sejak awal perkembangan Islam, ilmu -berdasarkan pengamatan, wahyu, atau renungan para sufi- sebagai induk ilmu pengetahuan selalu mendapatkan perhatian para pemikir Muslim. Bertemu dengan kecenderungan di atas, perhatian tersebut mengambil bentuk tanggapan terhadap perkembangan pesat ilmu pengetahuan modern di dunia Barat, yang dianggap tidak berinduk pada suatu ilmu yang benar. Tanggapan itu, karena lebih merupakan reaksi daripada usaha atas prakarsa sendiri, pada diri beberapa pemikir dan aliran pemikiran merupakan penyempitan wilayah wacana tentang ilmu dan ilmu pengetahuan dibandingkan dengan periode sebelumnya, khususnya masa awal perkembangan intelektual Islam.
B.                 Rumusan Masalah
1.      Kajian Islam di masa klasik dan modern
2.      Signifikansi pembaruan (penyegaran)  kajian  Islam di era globalisasi
3.      Tokoh-tokoh kajian Islam di era globalisasi
C.                 Analisis
1.    Kajian Islam di Masa Klasik dan Modern
“Sejak dari asal mulanya Islam, melalui ajaran prinsip-prinsip moral dan berlakunya hukum dalam kenyataan, pembaruan masyarakat merupakan bagian dari inti ajaran Islam. Sungguh Islam dapat dilukiskan sebagai gerakan pembaruan sosio-ekonomi yang didukung oleh ide keagamaan dan etis tertentu yang sangat kuat berkenaan dengan tuhan, manusia, dan alam raya. di Madinah, begitu keadaan mengizinkan, Nabi membentuk komunitas-negara dengan sebuah konstitusi dan, sesuai dengan tuntunan keadaan, perundang-undangan yang diperlukan pun di buat untuk komunitas itu, baik dalam bentuk ordonasi dari Qur’an maupun perintah-perintah Nabi, yang biasanya tidak di buat tanpa musyawarah dengan anggota-anggota senior komunitas..
Faktor yang paling fundamental dan dinamis dari etika sosial yang diberikan oleh Islam adalah egalitarianisme: semua anggota keimanan itu, tidak peduli warna kulit, ras, dan status sosial atau ekonominya, adalah partisipan yang sama dalam komunitas.” [1]
Tragedi yang paling menyedihkan yang menimpa masyarakat-masyarakat tradisional pada umumnya, dan masyarakat-masyarakat muslim pada khususnya disebabkan oleh tidak adanya komunikasi dan besarnya perbedaan pandangan antara rakyat jelata dan golongan pelajar. Dengan tersebar luasnya media massa, pemberantasan buta huruf, dan pendidikan di negeri-negeri barat, rakyat jelata dan kaum intelektual dapat saling memahami secara lebih baik dan mempunyai pandangan yang relatif serupa.
Bahkan dalam sejarah awal masyarakat Islam, kesenjangan besar yang ada sekarang ini antara kaum intelektual dan rakyat jelata tidak ada. para cerdik-pandai tradisional muslim, kaum ulama- termasuk para ahli hukum (fuqoha), ahli-ahli teologi dialektis (mutakallimin), ahli-ahli tafsir (mufassirun), para filosof, dan para sastrawan (‘udaba’)- mempunyai ikatan erat dengan masyarakat umum melalui agama. Meskipun mengajar  dan mengajar di dalam seminar-seminar (hawzah) yang tampaknya terpisah, mereka berhasil menghindari kerenggangan hubungan dengan rakyat.
Sayangnya, dalam kebudayaan dan sistem pendidikan modern, kaum muda kita dididik dan dilatih di dalam benteng-benteng yang terlindung dan tak tertembus. begitu mereka masuk kembali ke dalam lingkungan masyarakat, mereka di tempatkan pada kedudukan-kedudukan sosial yang sama sekali terpisah dari rakyat jelata. maka, cerdik-pandai- baru itu hidup dan bergerak dalam arah yang sama dengan rakyat. Tetapi, di dalam suatu “sangkar emas” lingkungan eksklusif. Akibatnya, di satu pihak kaum cerdik pandai  itu mengajarkan kehidupan yang terpencil di atas menara gading tanpa memahami sama sekali keadaan masyarakat mereka sendiri. dan di lain pihak, rakyat jelata yang tidak terpelajar tidak dapat memperoleh kebijakan (hikmah) dan kaum intelektual yang sama, yang telah mereka ongkosi (meskipun secara tidak langsung) dan mereka dukung perkembangannya.
Sumber utama ajaran Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah. yang disebut pertama merupakan kodifikasi yang disampaikan Allah melalui jibril kepada Nabi Muhammad. sedangkan yang disebut kemudian merupakan tradisi Nabi, baik yang bersifat perkataan (di sebut pula hadis) ataupun tingkah-laku perbuatan dirinya, dimana semua itu merupakan penjelasan (tafsir) atas ajaran-ajaran dalam al-Qur’an maupun Sunnah, menduduki posisi sentral dalam bangunan ajaran Islam.
Pada masa Nabi, seluruh persoalan keagaman dikembalikan kepada dirinya. jika terdapat keraguan atau ketidak jelasan dalam memahami suatu ajaran, para sahabat dan ummat Islam mengajukan persoalannya kepada Nabi. Karenanya, hampir dapat dikatakan, pada masa ini tidak dikenal kerja ijtihad, yang dapat dilakukan oleh ummat Islam. Namun demikian, tidak seluruh persoaln ijtihad menjadi tertutup. palin tidak, sampai batas teoritis, dasar-dasar ijtihad  yang telah diberikan oleh Nabi. Karena Nabi masih hidup, sementara seluruh persoalan keagamaan dikembalikan kepad dirinya, maka wajar jika kerja ijtihad belum dapat di lakukan ummat Islam ketika itu. Artinya, pada awal perkembangan Islam, hany al-Qu’an dan Sunnahlah yang menjadi satu-satunya rujukan bagi ummat Islam.
Sementara itu, tuntunan zaman dan tantangan Islam berkembang dan berubah. sepeninggal Nabi tidak lagi terdapat pihak yang berperan sebagai referensi keagamaan dengan kadar kebenaran yang mutlak sifatnya. Dengan telah diberikannya dasar-dasar ijtihad oleh Nabi, maka terhadap hal-hal yang belum jelas hukumnya dalam al-Qur’an atau Sunnah, diusahakan untuk dapat dipahami melalui mekanisme kerja ijtihad dengan ketentuan persyaratan tertentu. kerja ijtihad, ini mengawali tumbuhnya dinamika pemikiran Islam, baik dalam bidang Teologi, Tasawuf, Fiqh dan lain sebagainya.
Bidang pemikiran keagamaan Islam, yang muncul dipertengahan abad kedua hijriyyah lebih menonjolkan dimensi juris prudensi Islam atau hukum Fiqh. Berkat kegiatan intelektual para sarjana hukum Islam terkemuka, lahirlah empat madzhab (aliran) fiqh yang sama-sam di akui sah. Sebagaimana terhadap bidang-bidang pemikiran Islam lainnya, oerhatian ummat Islam terhadap madzhab-madzhab Fiqh cukup besar. hal ini dikarenakan pemikiran-pemikiran madzhab Fiqh tersebut memiliki relevansi langsung dengan kehidupan keagamaan ummat sehari-hari. Bahkan dalam bidang Fiqhiyyah  itu seringkali mentyentuh persoalan-persoalan ritual yag lebih praktis sifatnya. Madzhab-madzhab fiqh ini kemudian banyak mempengaruhi pola kehidupan keamaan ummat Islam. Hingga kini, pengaruh kuat itu masih tetap terasakan, terutama bagi mereka yang menyebut dirinya sebagai kelompok Ahl Sunnah wa al-jama’ah, atau golongan sunni.
Kondisi masyarakat Islam di Indonesia, sebagai mana dijelaskan dalam bab-bab terdahulu, memperlihatkan mata rantai jelas dalam hubungannya dengan situasi perkembangan global Islam yang tidak menyenangkan. Ummat Islam pada masa ini tenggelam dalam kejumudan (kemandegan berfikir) terpelosok dalam kehidupan mistikisme berlebihan, di samping juga di jajah oleh kekuasaan barat. Hampir dapat dikatakan bahwa seluruh dunia Islam sejak abad ketujuh belas telah jauh dalam domonasin kekuasaan barat (Kristen). situasi ini kemudian mengilhami munculnya gerakan reformasi Islam internasional sehingga mempengaruhi sebagian masyarakat Islam Indonesia untuk melakukan pembaruan pemikiran Islam. Untuk itu, langkah awal yang ditempuh adalah menghilangkan pikiran-pikiran tradisional yang tidak mendukung upaya ummat Islam dalam melepaskan diri dari kebodohan, kemiskinan, dan penjajahan.
Pada mulanya, gerakan pembaruan yang dilakukan oleh kelompok Muslim modernis di Indonesia, timbul akibat pengaruh gerakan pemurnian Muhammad  ibn Abd al-Wahab (1703-1778) di Jazirah Arab; perjuangan politik Pan-Islamisme Jamaluddin Al-Afghani (1839-1897) yang merupakan perwujudan pembaruan pemikiran politiki Islam, dalam usaha mempersatukan umat islam di seluruh dunia yang kemudian mendapatkan kerangka ideologis dan teologis dari muridnya, yaitu Muhammad Abduh di Mesir (1845-1905) pemabruan pemikiran Rasyid Ridha, Al- tanthawi dan Amir Ali pembaruan pemikiran syeikh Waliyullah Al-Dahlawi, ahmad Khan, Abu Kalam Azzad, Ali jinnah di India dan lain sebagainya. [2] Dengan mengemukakan pendapat bahwa ajaran-ajaran Islam sepenuhnya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan  zaman . kendatipun masing-masing bergerak pada berbagai bidang kehidupan ummat , para atokoh pembaru itu mendorong ummat Islam untuk melakukan penelaahan ulang serta menjelaskan  kembali doktrin-doktrin Islam dalam bahasa dan  rumusan yang dapat diterima oleh pikiran-pikiran modern.
2.    Signifikansi  Penyegaran (pembaruan)  Kajian  Islam di Era Globalisasi
Dorongan untuk membahas masalah ini ialah konstatasi bahwa kaum Muslim Indonesia sekarang  ini telah mngalami kejumudan kembali dalam pemikiran dan pengembangan ajaran-ajaran Islam, dan kehilangan psychologycal striking force  dalam perjuangannya. sebuah dilema segera dihadapkan kepada ummat Islam: apakah  akan memilih menempuh jalan pembaharuan dalam dirinya, dengan merugikan integrasi yang selama ini didambakan, ataukah akan mempertahankan dilakukannya usaha-usaha ke arah integrasi itu, sekalipun dengan akibat keharusan ditoleransinya kebekuan pemikiran dan hilangnya kekuatan-kekuatan moral yang ampuh? tidak bisa dipersatukannya (inkompatibilitas) antara keharusan pembaruan dan integrasi ialah kenyataan bahwa apabila suatu isiatif pembaruan telah diambil oleh sebagian ummat, sebagian  yang lain akan mengadakan reaksi kepadanya. Berkali-kali sejarah telah menunjukkan kebenaran hal itu.[3]
 Jika kita telah sampai pada keputusan hendak melaksanakan pembaruan dikalangan ummat, darimanakah kita hendak membukanya? Dalam hubungannya dengan masalah ini, dapatlah dikemukakan sebuah sebuah ungkapan Andrew Beufre: “Our traditional lines of though must go everboard, for it’s now far more important to be able to look ahead then to have large scale  of force whose effectiveness is problemmatical”[4] (garis-garis pemikiran kita yang tradisional harus dibuang jauh-jauh. Sebab, sekarang ini, jauh lebih penting mempunyai kemampuan melihat ke depan daripada mempunyai kekuatan dengan ukuran besar yang daya gunanya masih hrus dipersoalkan). Peringatan bahwa suatu kelompok kecil dapat mengalahkan kelompok besar menandaskan lebih pentingnya dinamika daripada kuantitas. Sudah tentu yang lebih  baik adalah kombinasi keduanya.
Tetapi jika tidak mungkin, pilihan harus dijatuhkan kepada salah satu daripada keduanya, dan hal itu haruslah dinamika. Dari ungkapan tersebut, kita hendak menarik pengertian bahwa pembaruan harus dimulai dengan tindakan yang saling erat hubungannya, yaitu melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional, dan mencari nilai-nilai yang berorientasi ke masa depan . Nostalgia, atau orientsi dari kerinduan masa lampau yang berlebihan, harus digantikan pandangan ke masa depan. Untuk itu, diperlukan suatu proses libelarisasi. Proses itu dikenakan terhadap “ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan islam” yang ada sekarang ini.

3.    Tokoh-tokoh Pembaharu Kajian Islam di Era Globalisasi
a.     Mohammed Abed Jabiri
Mohammed Abed jabiri lahir lahir di Marokko pada 1936. Karyanya mencakup berbagai jenis, mulai dari kronik jurnalistik sampai risalah filsafat yang paling padat. Proyeknya yang paling penting adalah “kritik nalar Arab” (yang ditulis dalam bahasa Arab dan terdiri dari empat jilid, diterbitkan di Casablanca dan Beirut antara 1991 dan 2001). Ringkasan dari karya ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dengan judul introduction á la critique de la raison arabe (pengantar pada kritik nalar Arab); terjemahan dan kata pengantar dibuat oleh Mahfoud dan M.geoff-roy (Paris : la Découverte, 1994 dan Casablanca: Le Fennec, 1995)
Mohammed Abed Jabiri (Muhammad ‘Abid al-Jâbirî memainkan sebuah peran yang sangat penting dalam pemikiran Arab abad ke-20. Karyanya telah menimbulkan reaksi hangat, bahkan kelewat keras dan kasar. Pemikirannya telah telah mengakibatkan keterpihakan yang baru di khazanah intelektual Arab. M.A. Jabiri sesungguhnya telah mengejutkan para filsuf dengan tesis-tesisnya yang berani tentang penafsiran-penafsiran momen-momen kunci tertentu dari pemikiran klasik. pada saat yang sama, ia telah memikat para khayalak ramai dengan tulisan-tulisannyayang kerap muncul di pers harian Arab.

b.                       Fazlur Rahman
Fazlur Rahman lahir pada 21 September 1919, di Distrik  Hazara, Pakistan, dan meninggal pada 1988. Ayahnya, Maulana Syihab al-Din, adalah seorang alim (teolog-yuris Muslim) yang mendapat pendidikan di Doeband, India. Di bawah bimbingannya, Fazlur Rahman memperoleh pendidikan dalam disiplin Tafsir, Hadits, Kalam, dan Falsafah. pernyataan-pernyataannya mengenai reformasi dan tulisan-tulisannya telah menimbulkan reaksi keras dari pihak tradisional, yang mendorongnya untuk meninggalkan Pakistan pada 1968. Kemudian ia menduduki jabatan profesor di Universitas Chicago, USA, dan mengabdikan diri pada pendidikan dan penelitian sampai akhir hayatnya.
Di antara karya-karyanya yang diterbitkan, antara lain :
1.      The Philosophy of Mulla Sadra Sadr al-Din al-Shirazi (Albany: State University of New York Press, 1975).
2.       Islam (Chicago: The University of Chicago Press, 1979).
3.      Major Theme of The Qur’an (Minneapolis: Bibliotheca Islamica, 1980).
4.      Muhammad The Educator of Mankind (London: Muslim School Trust, 1980).
5.      Islam and Modernity : Transformation of an Intellectual Tradition (Chicago: The University of Chicago Press, 1982).
6.      Revival and The Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism (makalah-makalah yang dikumpulkan dan diberi kata pengantar oleh Ebrahim Moosa) (Oxford: One World, 2000).
c.           Mohammad Abduh
Abduh, demikian namanya dikenal orang. Ia lahir di tahun 1849.[5] Muhammad Abduh adalah seorang tokoh salaf-sufi abad modern. Ia juga seorang reformer yang menghembuskan pembaharuan pemikiran rasional lewat karya masterpiece-nya Risalah Tauhid yang dijadikan landasan kokoh teologi modern-nya. Dia juga seorangaktivis pergerakan yang tanpa lelah memompa semangat nasionalisme Arab. Dan secarasekaligus ia adalah seorang teoretisi dan praktisi pendidikan Islam dan terenyuh dengankondisi umat Islam yang serba terbelakang. Cita-cita besarnya adalah membongkar batukarang kejumudan dengan membuka lebar-lebar pintu ijtihad dalam rangka mengorkestrasiajaran teologi Islam sehingga compatible dengan tuntutan zaman modern.
Ia pandai membaca dan menulis sejak kecil dan mampu menghafal al-Qur’an dalam waktu yang cukup singkat yaituselama dua tahun. Kemudian pada usianya yang ke-13 ia dikirim ke Tanta untuk belajar agamadi Mesjid Syekh Ahmad. Anehnya selama dua tahun dia belajar keras bahasa Arab, nahwu, sharf, fiqh dan sebagainya. Namun ia merasa tidak mengerti apa-apa. Abduh berkeluh “Satu setengah tahun saya belajar di Mesjid Syekh Ahmad dengan tidak mengerti suatu apapun. Ini adalah karena metodenya yang salah, guru-guru mulai mengajak kita dengan menghafal istilah-istilah tentang nahwu atau fiqh yang tidak kita ketahui artinya. Tidak penting bagi guru-guruapakah kita mengerti atau tidak istilah-istilah tersebut.”[6] Lazimnya metode di sekolah-sekolahagama ketika itu, semua materi agama diajarkan dengan metode menghafal. Abduh nampaknyasangat tidak setuju dengan hal ini, sehingga ia melarikan diri dari Tanta dan bersembunyi dirumah salah satu pamannya. Baru tiga bulan beranjak dari pelariannya, Abduh kembali dipaksauntuk belajar ke Tanta. Namun bagi Abduh, kembali ke Tanta adalah hal yang sia-sia karena tidak akan ada yang akan diperolehnya di sana. Sehingga kemudian dia memilih pulang kekampung halamannya dan berniat untuk mengabdikan dirinya sebagai seorang petani. Dan pada usianya yang ke-16, Abduh pun kawin. Dan tepat empat puluh hari pasca perkawinannya Abduh kembali dipaksa oleh orang tuanya untuk belajar ke Tanta. Karena desakan tersebut, terpaksaAbduh meninggalkan kampungnya, tetapi tujuanya bukan pergi ke Tanta melainkan bersembunyi lagi di rumah salah satu pamannya. Beruntung bagi Abduh karena di tempat inilahia bertemu dengan seseorang yang kemudian mampu merubah jalan hidup Abduh. Orang itubernama Syekh Darwisy Khadr, paman dari ayah Muhammad Abduh. Syekh Darwisy terkenalsangat alim.
   Muhammad Abduh melanjutkan pendidikan di Thanta, akan tetapi 6 bulan di Thanta iameninggalkan Thanta dan menuju al-azhar yang diyakininya al-Azhar adalah tempat mencari ilmu yang sesuai untuknya. Namun, disana ia juga memperoleh kekecewaan karena ternyata ia hanya mempelajari ilmu-ilmu agama saja. Dalam salah satu tulisannya ia melemparkan rasa kekecewaannya tersebut dengan menyatakan bahwa metode pengajaran yang verbalis itu telah merusak akal dan daya nalarnya. Abduh pernah menjabat Syekh atau rektor di Universitas Al-Azhar Cairo Mesir. Pada saat itulah Abduh melakukan pembaharuan-pembaharuan di Universitas tersebut yang membawa dampak yang sangat luas di dunia Islam.

D.  SIMPULAN
Sumber utama ajaran Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Pembaruan Islam baik dimasa klasik maupun modern tidak lepas dari kedua hal tersebut. Karena al-Qur’an dirancang bukan untuk suatu kaum atau kurun tertentu, tidak sebagaimana kitab-kitab suci lain Allah, seperti: Zabur, taurat, Injil, kehadirannya dimaksudkan sebagai petunjuk dan pedoman hidup seluruh ummat manusia disepanjang zaman. Maka ajaran-ajaran yang dikandungnya bersifat global dan universal.
Kaum Muslim Indonesia sekarang  ini telah mengalami kejumudan kembali dalam pemikiran dan pengembangan ajaran-ajaran Islam, dan kehilangan psychologycal striking force  dalam perjuangannya. Dengan demikian, tidak bisa dipersatukannya (inkompatibilitas) antara keharusan pembaruan dan integrasi ialah kenyataan bahwa apabila suatu inisiatif pembaruan telah diambil oleh sebagian ummat, sebagian  yang lain akan mengadakan reaksi kepadanya.
Pentingnya metode pemahaman keagamaan yang benar yang mampu menggali ajaran islam yang subsantif belum disadari oleh sebagian besar masyarakat islam indonesia, sehingga ajaran islam mampu menjadi solusi alternatif dalam segala situasi dan kondisi (shalih li kulli zaman wa makan). Karena itu, dinamika pemahaman sangat penting ditengah perubahan sosial yang dibigkai dengan metodologi pemahaman yang solid.

E.                  Daftar Pustaka
Madjid Nurcholish, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, (Bandung: Mizan, 2008). Cetakan pertama.
Filali-Ansary Abdou, Pembaruan Islam: Darimana dan Hendak Kemana, (bandung, Mizan, 2009)
Ali Fachry, dan Effendy Bahtiar, merambah jalan baru islam, (Bandung, Mizan,1986) cetakan pertama.
Dr. Pimay H Awaludin, Lc.M.Ag dan Dr. Ilyas Supena,M.Ag, Pendekatan Study Islam (Gunung jati, 2008)
Dr. syari’ati Ali, membangun Masa Depan Islam,(Bandung: Mizan, 1998) Cetakan kedua.


[1] Encyclopedia Britannica, s.v. “Islam”,            
[2] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta 1975.
[3] Nurcholis majid, Islam Kemodenrnan dan Keindonesiaan, Hal. 225
[4] Ibid Hal. 228
       [5] Charles C Adams. Islam and Modernism (New York: Russel and Russel ,1993), 18.

[6] Dalam biografinya Muhammad Abduh mengkritik metode pengajaran yang diterapkan di Thanta. Metodetersebut dikatakannya sebagai metode yang tidak peduli dan tidak memeliki empati terhadap minat dan bakatsiswanya. Metode yang demikian menurutnya bukan memproduksi siswa yang cakap, tetapi membuat muridnyasemakin bodoh karena tidak mengerti dengan apa yang dihafalnya. Lihat, Muhammad Rasyid Ridha, Tarikh al-Ustaz al-Imam al-Syaikh Muhammad ‘Abduh (Mesir: al-Manar 1931), 20.

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di BLOG*ISLAM

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

0 komentar:

Post a Comment

 
Support : KANG WEB
Copyright © 2013. BLOG*ISLAM - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger